Mengembangakan Fisik Motorik Anak dengan Permainan Tradisonal

 

Dalam kehidupan sehari-hari, permainan  tradisional dan modern selalu dimainkan oleh anak-anak, karena anak-anak sejatinya sangat dekat dengan  permainan. dan dengan permainan ini dijadikan sebagai sarana perkembangan fisik dan motorik pada masa kanak-kanak. 


Anak-anak adalah orang yang berbeda dan unik dengan karakteristiknya masing-masing, tergantung pada tahap perkembangan mereka. Oleh karena itu bisa dikatakan perkembangan pada anak usia dini dapat dicapai melalui belajar dan bermain. Maka dalam suatu pendidikan harus ada pola pengajaran yang baik untuk perkembangan anak. Bermain adalah salah satu hak anak dalam hidup. Melalui bermain, anak-anak dapat belajar banyak hal yang sebelumnya tidak mereka ketahui dan belajar tentang lingkungan melalui bermain.


Di dalam perkembangan fisik motorik anak biasanya kalau dilihat dari segi fisik yang paling nampak atau menonjol adalah terjadinya perubahan fisik. dibuktikan dengan  perubahan fisik pada anak yang terjadi sangat cepat, yaitu dari kelahirannya kemudian dilanjutkan pada masa anak-anak, remaja dan dewasa. Perkembangan fisik sendiri meliputi empat aspek, yaitu: sistem saraf, Otot, Kelenjar, dan struktur fisik/tubuh. Sedangkan jika dilihat dari motoriknya adalah gerakan tubuh atau bagian yang dengan sengaja digerakkan yang dilakukan oleh anak tersebut. keterampilan motorik adalah faktor yang sangat penting untuk perkembangan anak usia dini, maka dengan bermain atau melakukan permainan ini dapat mengembangkan fisik motorik pada anak.


Bermain juga merupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan di masa kanak-kanak karena bermain memungkinkan anak-anak untuk mengekspresikan diri secara bebas. Anak-anak adalah “pembelajar alami” karena mereka belajar yang paling baik ketika kegiatan dilakukan dalam lingkungan yang menyenangkan tanpa tekanan apapun. Ada banyak permainan yang bisa dimainkan anak-anak, termasuk permainan tradisional walaupun banyak permainan tradisional yang ditinggalkan karena kemajuan teknologi yang pesat. Padahal permainan tradisional ini juga merupakan hiburan yang menarik, dimana pemain mendapatkan rasa kepuasan saat berpartisipasi. Anak dapat melakukan latihan  motorik  melalui gerakan terkoordinasi yang didukung oleh lingkungannya yang  mendorong stimulasi karena karakteristiknya, seperti adanya rasa ingin tahu yang besar dan keinginan untuk mencoba. Dan aktivitas bermain di luar ruangan ini menjadi pilihan terbaik karena dapat membantu meningkatkan pertumbuhan. Melalui aktivitas bermain, hubungan antara keterampilan fisik dan motorik dieksplorasi. 


Jenis permainan tradisional
 Berikut adalah beberapa contoh permainan tradisional : 

  1. Tebak, ketuk, congklak, lompat tali dan engkol. Permainan ini dapat membantu anak-anak mengembangkan keterampilan fisik dan sosial  serta keterampilan logis dan fisik, seperti aritmatika. 
  2. Petak umpet, sodor gobak  dan benteng. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan latihan fisik untuk anak-anak.
  3. Mobil, egrang, pokeball, takraw dan calung termasuk yang  paling populer, karena anak-anak didorong untuk berpartisipasi dalam lingkungannya, bentuk permainan ini akan membantu mengembangkan kecerdasan alami anak.

Anak-anak sangat menikmati bermain dan akan terus melakukannya di mana pun mereka mendapat kesempatan. Kegiatan bermain ini memungkinkan anak untuk mengenal satu sama lain, dengan orang-orang yang mereka temui dan lingkungan tempat mereka tinggal. Permainan tradisional memiliki banyak manfaat bagi anak-anak. Selain tidak menghabiskan banyak uang dan juga bisa baik untuk kesehatan tubuh. 

Permainan tradisional juga dapat dijadikan sebagai sarana kegiatan olahraga karena semua permainan menggunakan ekstra gerak tubuh, permainan tradisional  sangat baik untuk melatih fisik dan semangat anak. Secara tidak langsung, anak akan dirangsang kreativitas, kecerdikan, kemampuan kepemimpinan, kecerdasan dan tingkat wawasannya melalui permainan tradisional. Psikolog berpendapat bahwa  mainan tradisional ternyata mampu membentuk kemampuan motorik anak, baik kasar maupun halus. [Shafia Utami, Mahasiswa Uhamka]
 

Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment